Rabu, 19 Desember 2007

Mambangun Impian







Membangun impian dengan fisikaAgus Purwanto
Indonesia kian dikenal di dunia internasional karena berhasil memenangi beberapa kali Olimpiade Fisika Internasional. Meski begitu, bagi siswa SMU dan mahasiswa eksakta yang pernah mendapat pelajaran fisika, fisika sebagai bidang ilmu dan lembaganya belum banyak dikenal. Akibatnya, hanya sekitar 10-120ari mahasiswa jurusan fisika yang mengambil fisika sebagai pilihan pertama saat tes masuk PT. Itu terjadi pada jurusan fisika di semua universitas di tanah air.
Fisika adalah ilmu yang membahas fenomena alam dengan bahasa matematika. Sifat umum pembahasannya lebih menonjol aspek why-nya dibanding how. Belajar konsep fisika seringkali belajar sejarah konsep itu sendiri, sebelum disajikan formulasi matematis yang rinci dan lengkap. Nuansa seni berpikir logis dan intuitif sangat dominan. Ditambah materi khas fisika, yakni mekanika kuantum dan statistik, membuat mahasiswa fisika punya pengalaman berabstraksi lebih. Materi khusus yang sesuai minat diberikan di tahap sarjana. Ada beberapa bidang minat di jurusan fisika FMIPA seperti fisika teori/murni, fisika nuklir, fisika medis, biofisika, fisika material elektronik, fisika bumi, fisika komputasi dan instrumentasi, dan fisika keuangan.
Kecintaan mahasiswa fisika pada ilmu pun tumbuh. Akibatnya lulusan fisika (LF) suka melakukan petualangan intelektual dan memasuki wilayah baru yang asing dan menantang. Fisikawan teoritik Stephen Wolfram terobsesi melahirkan teori kemanunggalan alternatif. Ia keluar dari mainstream model building konvensional dan string theory. Dalam bukunya The New Kind of Science kreator software numerik-simbolik matematika ini menggabungkan konsep fisika, biologi, kimia dan sains komputer. Wolfram berpeluang menjadi miliader baru terkaya menggantikan posisi Bill Gates (JH Sinamo, Kompas 29/7/2002).
Danah Zohar, LF MIT, menaruh perhatian pada model holografik dari pikiran dan kesadaran. Dalam bukunya Quantum Self dan Quantum Society, ia mengajukan model kuantum bagi kesadaran untuk menjelaskan bagaimana otak dan neuronnya dapat bekerja secara terpadu dan koheren. Karya terbarunya The Spiritual Intelligence menyempurnakan evolusi ide kecerdasan mulai IQ yang muncul di awal abad 20 dan EQ yang diintrodusir Daniel Goleman pertengahan 1990-an.
Contoh tsb sekadar melengkapi cerita klasik Galileo, Newton, Einstein maupun Stephen Hawking. Dengan demikian, LF siap terjun di berbagai bidang. LF pun diserap di berbagai industri, seperti perusahaan eksplorasi minyak, semikonduktor, pesawat terbang, telkom maupun perbankan. Kita punya dua ekonom berlatarbelakang fisika, yaitu Dr Umar Juoro dan Dr Rizal Ramli.
Hanya sebagian kecil di dunia pendidikan, itupun umumnya mereka yang terbaik di masing-masing angkatannya. LF yang melanjutkan studi di jurusan selain fisika umumnya merasa lebih mudah. Mereka umumnya bisa menulis publikasi internasional lebih dari yang dipersyaratkan. Contoh, seorang LF yang melanjutkan studi di salah satu jurusan di fakultas tenik, Universitas Hiroshima, menggeluti rekayasa skala nano yang memerlukan penguasaan mekanika kuantum. Ia sangat produktif menulis publikasi dan membuat profesornya punya ambisi baru, menembus Majalah Nature yang presitisius. Ia lulus sebagai Doctor of Engineering dengan 13 published paper. Padahal syarat kelulusan hanya menuntut dua publikasi! Tahun lalu, tiga LF ITB didatangkan untuk studi lanjut di Universitas Hiroshima atas biaya lab Sang Profesor.
Untuk apa fisika dipelajari dan dikembangkan? Bukankah masyarakat masih harus memenuhi kebutuhan keseharian? Di jurusan fisika seperti halnya jurusan lain, memang tak diajarkan cara membuat roti. Namun kita tahu, kebutuhan manusia bukan sekadar isi perut dan materi. Keresahan hidup bukan hanya milik orang miskin. Tak sedikit orang yang hidup dikelilingi materi, masih didera keresahan berkepanjangan. Sebab, manusia terdiri dari jasad material dan ruh intelektual-spiritual. Keduanya harus dipenuhi secara berimbang.
Selain itu setiap disiplin ilmu terkait satu dan lainnya, membentuk pohon ilmu. Setiap bagian pohon punya fungsi yang khas. Daun bisa untuk makan ternak, ranting untuk kayu bakar, pohonnya bisa untuk membuat jembatan dst.
Tak fair berharap bisa membangun jembatan dari daun, seperti tak fair menuntut sarjana fisika merancang kontruksi pesawat. Tetapi posisinya untuk menyiapkan material canggih untuk pesawat sulit digantikan sarjana lain. Saat pesawat ulang-alik Challenger milik NASA mengalami musibah tahun 1980-an. Tim pelacak musibah adalah fisikawan kocak Richard Feynman dan menemukannya dalam waktu singkat. Meminjam pernyataan pemenang Nobel ilmu ekonomi 1998 Armatya Sen, pembangunan harus difahami sebagai peluasan kebebasan, dalam arti peningkatan kemungkinan orang mencapai sasaran yang bernilai tinggi. Sen menunjukkan, pendekatan utilitarianistik belaka tak memadai. Manusia dengan segala usahanya tak bisa difahami dan diukur dengan pendekatan ekonomis semata.
Manusia adalah makhluk yang ingin tahu, bahkan terhadap hal-hal yang diluar jangkauan akalnya. Manusia makhluk transenden, tak pernah puas dengan pengetahuan yang dimilikinya. Ia terus bertanya. Pengetahuan itu adalah kehormatannya. Jagat raya membuka diri untuk diselidiki oleh manusia. Melaluinya diharapkan manusia bisa memahami Sang Pencipta dengan segala kehendak-Nya secara lebih komprehensif. Fisika menyelidiki misteri jagat ciptaan tsb, yang mikro maupun makro. Fisika merangsang manusia mengembangkan imajinasi dan fantasinya. Fantasi inilah yang diperlukan manusia, bila ingin maju. Fantasi membangkitkan fisikawan terus berpikir perkara besar dan jauh. Lahirlah proyek ilmiah raksasa atau terdepan (frontier).
Akselerator Linier Stanford (SLAC) di Palo Alto California dibangun tahun 1960-an. Akselerator sepanjang dua mil ini digunakan untuk mengakselerasi elektron hingga mencapai energi 17 GeV. Satu giga elektron volt (GeV) adalah energi elektron yang berpotensi listrik satu miliar volt! Bila elektron ini ditumbukkan pada proton, terjadi disintegrasi proton ke dalam beberapa quark. Laboratorium besar lainnya di Amerika, misalnya Brookhaven National Laboratory (BNL) di Long Island New York dan Fermi National Accelarator Laboratory (Fermilab) di Chicago. Amerika berusaha terdepan dalam sains material dan teknologinya dengan mencanangkan proyek teknologi skala nano sampai tahun 2020.
Laboratorium serupa dibangun di Jenewa, Swis, yaitu Centre Europenne Pour la Recherche Nucleare (CERN). Akselerator penumbuk elektron-positron yang bisa mencapai energi sebesar 100 GeV ini beradius sekitar dua kilometer. Tahun 1983, CERN mendeteksi partikel W pembawa gaya lemah yang diprediksi oleh teori elektro lemah. Setahun kemudian, Dr Carlo Rubia, pimpinan proyek tsb mendapat Nobel fisika. Laboratorium besar fisika partikel Eropa lainnya adalah Deutsches Elektronen-Synchroton (DESY) di Hamburg Jerman.
Di Jepang laboratorium SuperKamiokande (SuperK) dibangun satu kilometer di bawah permukaan tanah di Gunung Kamioka, dekat Toyama. SuperK berhasil mendeteksi massa kecil neutrino pada 1998 lalu dan menjadi rujukan utama bidang flavor physics. Tahun 2005 Jepang akan membangun laboratorium sejenis lima kilometer di bawah permukaan air. Di Cina ada Beijing electron-positron collider, akselerator versi SLAC SPEAR yang di-upgrade.
Proyek tsb barangkali tak langsung bermanfaat dan lahir dari rang yang tertarik pada hal-hal yang jauh ke depan. Mereka membuka cakrawala pandang jauh menembus ruang waktu, sekaligus merangsang keinginan kita. Mereka mengajak memahami pilihan dan kebijakan Tuhan dalam penciptaan, mengenali pola dan perusakan simetri yang dibuat-Nya, ataupun mengarungi dimensi ekstra yang mengkerut selama evolusi jagat raya. Penggalian prasasti Batutulis Agustus lalu bisa dipahami dengan perspektif fantasi ini. Demikian pula tayangan sinetron gedongan dan cerita sakti lain di layar kaca. Miskinnya imajinasi dan fantasi menuntun pada tindakan lucu dan naif. Fisika mengatasi dengan cara yang khas. Ia menawarkan fantasi dengan energi besarnya yang sanggup memecah kebekuan dan mendobrak kejumudan
Sumber : Surya (21 September 2002)
--------------------------------------------------------------------------------revisi terakhir : 9 September 2003

Tidak ada komentar: